Langsung ke konten utama

Ciri-ciri Karakteristik Kopi Arabika Kintamani Bali Spesial

Kopimat.com - Kopi Arabika Kintamani Bali adalah kopi jenis Arabica yang ditanam di dataran tinggi Kintamani dengan ketinggian di atas 900 m dpl, di lereng-lereng gunung berapi Batur sekitar Danau Batur yang tanah serta iklimnya sangat mendukung bagi tanaman kopi. Mutu Biji kopi Kintamani Bali adalah mutu 1 dengan nilai cacat fisik kurang dari 5 per 30 gram menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) dan standar dari The Speciality Coffee Association of America (SCAA).

Kopi Arabika Kintamani Bali merupakan kopi yang telah ditetapkan sebagai Kopi Indikasi Geografis dari Provinsi Bali oleh Kementerian Hukum dan HAM RI nomor paten 00001 tahun 2008. Berarti, kopi ini tidak akan ditemukan di tempat lain khususnya dari jenis tanaman kopi, asal daerah kopi, maupun prosesnya. Kondisi harus tetap dijaga agar reputasi mutu dan kualitas sebagai kopi spesial dunia tidak menurun.
gambar Ciri-ciri Karakteristik Kopi Arabika Kintamani Bali Spesial Gunung Batur

Perkembangan Kopi Arabika Kintamani Bali

Sumber-sumber catatan Belanda menyebutkan bahwa tumbuhan kopi telah ditanam sejak 1800-an di Pulau Bali. Hal ini dijelaskan oleh KF. van Delden Laerne dalam bukunya Verslag over de Koffiecultuur in Amerika, Azie en Afrika (Laporan tentang Budidaya Kopi di Amerika, Asia dan Afrika) yang diterbitkan pada tahun 1885.

Laerne menyebutkan bahwa Jawa telah mengekspor Kopi Arabika keluar negeri di tahun 1825 sebanyak 10.000 picol (pikul). Jika dikonversi dalam ton, 1 pikul beratnya 61 kg, maka saat itu Jawa telah mengekspor sekitar 610 ton Kopi Arabika. Suatu ukuran ekspor yang fantastis. Kopi arabika Jawa ini berasal dari Jawa sendiri ditambah Kopi Arabika Bali dan Kopi Arabika Palembang.

Demikian juga catatan selanjutnya di tahun 1853 dimana Kopi Arabika Bali bersama dengan kopi Sumatera dan Sulawesi diekspor melalui Jawa sebanyak sekitar 70.000 picol (pikul) atau setara 4.300 ton. Ukuran yang semakin fantastis di masa abad 19 itu.

Ekspor menurun ketika tanaman kopi Jawa dan Bali di tahun 1878 diserang hama Karat Daun Kopi dan menghancurkan perkebunan tanaman kopi.

Di awal abad 20, Kopi Bali bangkit kembali dari keterpurukan reputasi sebagai kopi terbaik dunia. Hal ini terlihat dari laporan luas lahan perkebunan kopi di Bali yang meningkat dan mencapai 13.000 hektar di sekitar kawasan pegunungan tinggi Kintamani.

Kondisi pendudukan Jepang menyebabkan luas lahan perkebunan kopi di Bali menyusut yang merubah perkebunan kopi menjadi lahan pangan berupa jagung dan lain-lain demi kepentingan Jepang.

Meletusnya Gunung Batur tahun 1917, 1948 dan 1977, diikuti dengan meletusnya Gunung Agung di tahun 1963 juga menjadi penyebab menyusutnya luas lahan kopi di Bali. Hal ini mengakibatkan menyusutnya produksi biji kopi dan semakin berkurang jumlah ekspor kopi dari Bali.

Setelah meletusnya Gunung Batur di tahun 1977, Pemerintah Provinsi Bali berusaha mengembangkan kembali tanaman kopi melalui Anggaran tahun 1977/1978 dengan diluncurkannya Proyek Rehabilitasi dan Pengembangan Tanaman Eskpor (RPTE) melalui tanaman kopi. Hal ini mulai membuahkan hasil bagus, tetapi turunnya harga kopi dunia di tahun 1990, menyebabkan petani kopi Bali merubah lahannya menjadi perkebunan jeruk dan sayuran.

Kopi Bali kembali bangkit melalui Kopi Arabika Kintamani Bali karena perkembangan pariwisata Bali semakin membaik. Reputasi Kopi Arabika Kintamani kembali menyeruak pasaran kopi dunia. Hal ini secara tidak langsung didukung dengan adanya turis Eropa yang bercerita tentang kehebatan rasa dan sejarah Kopi Arabika yang berasal dari dataran tinggi Kintamani Bali. Kopi Bali kembali memasok toko-toko dan supermarket serta tentunya juga diekspor ke mancanegara dalam jumlah besar.

Selain jenis Kopi Arabika, di tahun 2018, Pemerintah Provinsi Bali juga menggiatkan penanaman kopi dari jenis Kopi Robusta dengan 4 klon varietas yaitu BP308, BP 358, BP 42 dan SA 237. Istilah Kopi Sakti pun melekat pada Kopi Robusta varietas BP 308 dimana pertumbuhan jenis ini adalah paling jagur (tubuh besar) daripada 3 klon lainnya.

Kopi Robusta Pupuan Bali yang berasal dari Kebun Induk di daerah Pupuan Bali pun ikut menyusul Kopi Arabika Kintamani sebagai tanaman kopi khusus dari Bali dengan telah ditetapkannya Kopi Indikasi Geografis atas Kopi Robusta Pupuan Bali oleh Kementerian Hukum dan HAM RI pada tahun 2017 dengan nomor paten 000060.

Kawasan Perkebunan Kopi Arabika Kintamani Bali

Kopi jenis Arabika ini sangat memiliki keterkaitan produk dengan faktor alam yang sudah menjadi kondisi alaminya. Selain masyarakat Bali juga memiliki konsep Tri Hita Karana dan Budaya Subak Abian.

Kawasan penanaman kopi arabika ini berada di garis lintang antara 115º15 East/Timur dan 115º30 East/Timur, garis busur 8º10 South/Selatan dan 8º20 South/Selatan, yaitu di arah Timur Laut (North East) Pulau Bali, yang merupakan daerah tropis seperti daerah lainnya di Indonesia.

Kawasan Kintamani di Kabupaten Bangli ini memiliki alam pegunungan yang sejuk, baik di Kecamatan Kintamani itu sendiri, Kecamatan Bangli, Kecamatan Susut maupun Kecamatan Tembuku yang mencakup lereng dan punggung Gunung Batur serta dataran-dataran bergelombang. Di kawasan ini memiliki vegetasi tanaman hutan, perkebunan hortikultura maupun tanaman pangan lainnya.

Kopi Arabika Kintamani Bali ditanam pada kawasan desa-desa antara Gunung Batur dan Gunung Catur meliputi 16 desa pada Kecamatan Kintamani di Kabupaten Bangli, sedangkan di Kabupaten Buleleng ditanam di Kecamatan Kubutambahan dan Kecamatan Sawan. Ada juga di Kecamatan Petang di Kabupaten Badung.

Secara umum, kawasan Kintamani berada pada ketinggian 900-1.550 mdpl (meter diatas permukaan laut) dengan kemiringan lereng dari 0 sampai 60%. Rata-rata temperatur dikawasan ini adalah 15º Celcius di malam hari dan sekitar 22º-26ºC di siang hari. Iklim kawasan memiliki kelembaban relative sekitar 80-99 %.

Kondisi Iklim dan Tanah Kawasan Kintamani

Didukung dengan curah hujan sekitar 2.990 mm setiap tahun yang rata-rata terjadi selama 139 hari. Curah hujan terjadi sekitar 6-7 bulan hujan per tahun, diselingi 1 bulan lembab per tahun dan terjadi masa kering sekitar 4-5 bulan kering dalam 1 tahun yang umumnya terjadi pada bulan Juni sampai September.

Pohon Kopi Arabika Kintamani Bali secara umum ditanam pada tanah dari bentukan geologis Qbb yaitu material tufa dan endapan lahar Buyan Bratan serta Gunung Batur dan Gunung Agung dengan umur dari masa quarter. Tanah Entisol dan Inceptisol (Regusol) menjadi jenis tanah yang ada di kawasan Kintamani dengan tingkat kesuburan fisik dan kimiawi yang tinggi. Tanah ini memiliki tekstur pasir bergeluh atau geluh berpasir dengan tingkat keasaman tanah pada tingkatan sedang.

Geluh atau Loam adalah merupakan tanah yang terjadi dari keseimbangan kombinasi pasir, debu dan lempung. Tanah jenis geluh ini lebih bersifat lembap karena mudah mengikat air dan nutrisi tetapi juga bersifat remah atau mudah digemburkan sehingga sangat cocok untuk tanah pertanian dan perkebunan.

Kondisi tanah yang subur di kawasan Kintamani ini didukung dengan diapitnya kawasan ini oleh 3 gunung yaitu Gunung Batur, Gunung Agung dan Gunung Catur yang semakin memperkaya nutrisi tanah.

Jenis Tanaman dan Proses Produksi Kopi Bali

Kopi Bali dari jenis Arabika dibawa Belanda ke Indonesia dari Yemen sebagai salah satu cara Belanda memanfaatkan sumber daya alam wilayah bawahannya dan memperkuat kondisi keuangan Belanda.

Sekarang, Jenis Kopi Arabika tersebut telah berkembang varietasnya termasuk yang dilakukan pemerintah Provinsi Bali di tahun 1977/1978. Varietas Kopi Arabika di Bali umumnya dari varietas Kopyol, S-795 dan USDA 762.

Kopi Kopyol merupakan jenis tanaman kopi binaan pemerintah sejak 1985 yang penyebutannya berubah karena cabang pohon kopi menjuntai ke bawah sampai menyentuh tanah. Dalam Bahasa Bali, kondisi ini disebut "ngopyol" sehingga Kopi Arabika ini dikenal sebagai Kopi Kopyol yang banyak ditanam di Kintamani, Petang, Sukasa, Daya dan Redang.

Potensi produksi Kopi Kopyol dapat mencapai 10 kg kopi gelondong merah pada setiap batang pohon kopi. Kopi Kopyol memiliki daya tahan atas serangan hama pengerek buah dan nematoda.

Pohon Kopi Arabika Kintamani Bali ditanam dengan jarak 2,5 m x 2,5 dimana 1 hektar lahan akan dapat menampung tanaman kopi sebanyak 1.600 batang pohon. Pohon kopi yang ditanam tetap memiliki pohon penaung dengan pemupukan 2 kali setahun menggunakan kompos tanaman sayur dan pupuk kandang. Dalam hal ini, petani tidak dibenarkan menggunakan pupuk kimia.

Pohon kopi yang telah tumbuh dilakukan pemangkasan dengan ketinggian sekitar 180cm berbentuk batang tunggal serta dilakukan pangkas lepas panen, wiwil kasar dan wiwil halus. Pestisida tidak digunakan untuk membasmi hama penyakit, tetapi petani kopi menggunakan musuh alami dan agensia hayati. Dilakukan juga pembersihan rumput liar.

Selama masa panen atas Kopi Arabika Kintamani Bali yang telah ditetapkan sebagai tanaman kopi Indikasi Geografis dari Provinsi Bali, pemetikan dilakukan secara selektif atas buah merah yang diharapkan akan menghasilkan kopi gelondong merah sebanyak 96% dan sisanya gelondong kuning. Hasil petikan buah kopi tidak boleh ada kopi gelondong hijau dan hitam.

Hasil petikan buah kopi Bali langsung diserahkan pada hari yang sama kepada pengolah dan langsung diproses. Gelondong merah diproses dengan dipilih secara manual dengan metode perambangan di atas air. Gelondong merah yang mengapung di atas air akan dikeluarkan dari sortiran dan tidak diolah.

Gelondong merah yang telah dipilih akan dikupas secara manual maupun menggunakan mesin dengan air bersih. Kopi yang telah dikelupas kembali dirambangkan yaitu proses biji kopi direndam dalam air untuk melihat kopi yang mengapung atau merambang diatas air. Kopi yang telah dikelupas ternyata masih mengapung juga akan dikeluarkan dari sortiran dan tidak diolah lebih lanjut menjadi kopi spesial.

Lalu kopi difermentasi selama 24 - 36 jam, dicuci ulang lalu dijemur terkena sinar matahari langsung yang umumnya diletakkan di atas para-para agar lebih bersih dan terbebas dari gangguan hewan. Penjemuran dilakukan sampai kadar air kopi arabika Kintamani mencapai nilai 12 %. Rata-rata dibutuhkan waktu 14 hari dengan kondisi matahari cerah agar kopi menjadi kering.

Semua alat-alat pengolah pasca panen kopi harus selalu dibersihkan setiap hari setelah selesai dipakai. Hal ini dilakukan agar alat itu tidak mempengaruhi rasa dan bentuk atas pengolahan kopi berikutnya.

Kopi Kintamani Bali yang telah kering (green beans) akan disimpan dalam karung-karung yang harus baru selama 2 bulan dalam ruangan yang kering dan bersih.

Setelah itu barulah Kopi Arabika Kintamani Bali dapat diperjualbelikan dalam bentuk biji kering (green beans). Atau selanjutnya dapat disangrai (roasting) dengan tingkat kematangan sedang (medium roast) untuk menghasilkan kopi spesial Bali yang benar-benar spesial.

Semua Kopi Kintamani Bali yang telah diroasting akan dibungkus dalam kemasan kedap udara dengan 3 lapis pelindung menggunakan katup 1 arah (one valve).

Semua kontrol kualitas dilakukan mulai dari penanaman, pemeliharaan pohon, panen, pasca panen, pengolahan buah menjadi biji dan seterusnya untuk menjaga reputasi dan kualitas kopi Bali yang menghasilkan kopi spesial kelas dunia. Kontrol dilakukan oleh masing-masing petani dan dilanjutkan dengan adanya Kontrol Subak Abian sebagai budaya Bali yang terus dipertahankan.

Hasil pengontrolan dilaporkan kepada Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Arabika Kintamani Bali agar semua petani dan pengolah kopi yang menggunakan nama kopi tersebut di Kintamani Bali tetap menjaga mutu sehingga Ketetapan Kopi Kintamani sebagai Kopi Indikasi Geografis Bali tetap bertahan dan tidak dicabut oleh Kementerian Hukum dan HAM RI.

Ciri-ciri Karakteristik Kopi Arabika Kintamani Bali

Kopi Kintamani memiliki kadar air pada biji maksimum 12 %, dengan biji Kopi berwarna hijau keabu-abuan berukuran sekitar diameter 16 mm atau lebih besar

Karakteristik cita Rasa yang dihasilkan dari Kopi Arabika Kintamani Bali yang telah disangrai dengan tingkat sedang (Medium Roast) akan menunjukan hasil sangrai yang relative homogen. Aroma kopi bubuk Kintamani terkesan manis (corn sweet) dan ada sedikit aroma rempah-rempah.

Sedangkan cita rasa Kopi Bali Kintamani jika diseduh akan terasa bebas dari cacat cita rasa, ada rasa jeruk citrusy, ada rasa asam dari tingkat sedang sampai tinggi, sedikit memiliki rasa pahit yang yang tidak begitu terdeteksi. Mutu kopi yang terbaik dan intensitas aroma kopi yang kuat, terkadang dijumpai ada rasa buah khususnya ada rasa jeruk peras. Hal inilah menjadi Ciri-ciri Karakteristik Kopi Arabika Kintamani Bali yang spesial dan layak ditetapkan sebagai Kopi Indikasi Geografis dari Bali yang nikmat dan spesial.

Sumber bacaan : dgip.go.id
Sumber Foto Gunung Batur : Pixabay / dejavumkc

Postingan populer dari blog ini

Takaran Membuat Segelas Kopi Hitam

Takaran Membuat Segelas Kopi Hitam Bila ingin mendapatkan segelas kopi yang nikmat rasanya, maka Anda harus memperhatikan takaran membuat segelas kopi hitam maupun yang Anda campur dengan gula atau susu. Soal rasa sebenarnya relatif. Ada juga yang mengonsumsi kopi disesuaikan dengan kondisi kesehatannya. Misalnya penderita maag, dianjurkan mengkonsumsi jenis kopi yang tingkat keasamannya lebih rendah. Maka sebelum kopi diseduh, hal yang paling penting dilakukan adalah mengetahui tingkat keasaman kopi tersebut agar tidak berefek pada asam lambung. Sebelum memastikan secangkir kopi yang akan Anda seduh tersebut nikmat sesuai takaran, ada juga hal lain yang perlu diketahui sebagai rahasia kelezatan kopi, yakni: Pemilihan saat membeli, baca lebel dan keterangan yang ada di kemasan. Saat ini ada banyak perusahaan kopi yang membuat kopi dengan campuran bahan lainnya, saling bertanya dengan sesama pecinta kopi akan membantu Anda mendapatkan jenis kopi terbaik. Jangan berpikir kopi dengan

Jumlah Takaran, Cara Meracik dan Membuat Kopi Hitam yang Enak dan Pas di Lidah

Jumlah Takaran, Cara Membuat Kopi Hitam yang Enak dan Pas di Lidah Jumlah takaran, cara meracik dan membuat kopi hitam yang enak tentu saja dibutuhkan informasinya oleh Anda para pecinta kopi. Terutama buat Anda yang belum punya selera yang pas, atau mungkin jenuh dengan rasa yang Anda nikmati saat ini dan ingin kembali berpetualang menemukan rasa yang baru dalam menyeduh kopi. Jumlah komposisi kopi, air atau gula bagi yang menggunakan gula tentunya akan sangat mempengaruhi rasa kopi yang dihasilkan. Buat Anda pecinta kopi asli tanpa gula, jumlah air dan berapa gram kopi yang dicampurkan akan mempengaruhi tingkat kepahitan seduhan kopi. Bila terlalu banyak air biasanya akan hambar, namun bila terlalu sedikit pun rasa pahit akan begitu terasa. Terlebih lagi jika Anda membuatnya dengan air mendidih 100 derajat, kafein akan larut sempurna dan pahitnya akan begitu terasa. Oleh karena itulah, para pakar kopi dunia telah mencari tahu bagaimana takaran, cara meracik dan membuat kopi hit

Filosofi Kopi dan Gula

Filosofi Kopi dan Gula Jika kopi terlalu pahit Siapa yang salah? Gula lah yang di salahkan karena terlalu sedikit hingga "rasa" kopi pahit Kasus 2 Jika kopi terlalu manis Siapa yang disalahkan? Gula lagi karena terlalu banyak hingga "Rasa" kopi manis Kasus 3 Jika takaran kopi & gula balance Siapa yang di puji...? Tentu semua akan berkata... Kopinya mantaaap Kemana gula yang mempunyai andil Membuat "rasa" kopi menjadi mantaaap Filosofi Kopi dan Gula Mari Ikhlas seperti Gula yang larut tak terlihat tapi sangat bermakna. Gula PASIR memberi RASA MANIS pada KOPI, tapi orang MENYEBUTnya KOPI MANIS... bukan KOPI GULA... Gula PASIR memberi RASA MANIS pada TEH, tapi orang MENYEBUTnya TEH MANIS... bukan TEH GULA... ORANG menyebut ROTI MANIS... bukan ROTI GULA... ORANG menyebut SYRUP Pandan, Syrup APEL, Syrup JAMBU.... padahal BAHAN DASARnya GULA.... Tapi GULA tetap IKHLAS LARUT dalam memberi RASA MANIS... Filosofi Kopi dan