Kopi Liberika Riau Menyapa Dunia




Suatu ketika seorang teman mengajakku untuk datang ke coffee shop (kedai kopi) milik temannya. Menurutnya, kedai kopi temannya itu berbeda dengan kedai kopi lain di Pekanbaru. Di kedai kopi itu, hanya ada satu jenis kopi, dan kopi itu khas dari Riau. Tepatnya, kopi ini berasal dari daerah Sempian di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Kaget juga mendengar penjelasannya itu. Ada kopi di Riau? Yup.. Dari hasil googling dan tanya sana sini, aku mendapatkan data bahwa dari 12 kabupaten dan kota yang ada di Riau, hanya Kota Pekanbaru yang nol perkebunan kopi. Selebihnya, terdapat perkebunan kopi, walaupun tidak begitu luas. Hanya 3 kabupaten yang memiliki luas perkebunan kopi di atas 1000 ha, yaitu Kabupaten Pelalawan, Indragiri Hilir dan Kepulauan Meranti.

Lalu, jenis kopi apa yang bisa tumbuh di dataran gambut seperti di Riau ini? Apalagi Kepulauan Meranti yang terkenal dengan lahan gambutnya hingga menjadi pusat restorasi gambut di Indonesia. Dari informasi-informasi yang kubaca, tanaman kopi dapat tumbuh baik di dataran tinggi, apalagi untuk jenis kopi arabika. Nah, di Riau ini, kopi yang tumbuh ternyata adalah kopi jenis liberika.

Terbuka lagi wawasanku tentang kopi. Sebelumnya aku hanya tau tentang kopi arabika dan robusta, sekarang ternyata ada varian baru yang disebut liberika. Belakangan aku juga tau ada jenis lain yang mirip liberika ini yaitu ekselsa.

Setelah mencoba secangkir longblack kopi Sempian, aku menemukan aroma dan rasa yang berbeda. Kopi ini sangat harum. Dari segi rasa, kopi ini mirip dengan kopi robusta, full body dan pahitnya sangat dominan, namun ada rasa manis di after taste nya.

Liberika (Liberoid), dari namanya, kita bisa mengetahui kalau kopi ini berasal dari Liberia, sebuah negara di Afrika. Konon, kopi ini di datangkan ke Indonesia ketika perkebunan kopi arabika milik kolonial Belanda terserang hama yang sangat parah. Kopi Liberika menjadi alternatif karena kopi ini lebih tahan terhadap serangan hama.

Namun, cerita lain tentang masuknya kopi ini ke Riau, khususnya ke Kepulauan Meranti adalah dibawa oleh seorang warga dari kunjungannya ke Batu Pahat, Johor, Malaysia sekitar tahun 1942. Haji Saleh namanya, warga desa Kedabu Rapat di daerah Rangsang Pesisir Kabupaten Kepulauan Meranti. Ketertarikannya terhadap kopi yang tumbuh di sana, kemudian pria yang bernama asli Dul Samad ini membawa 6 benih kopi ke sempian untuk ditanam di kebunnya. Setelah berkembang dan menghasilkan buah, H Saleh berupaya membibitkannya.

Lalu, muncullah perkebunan kopi di daerah ini. Mulai dari Parit Amat, Parit Gantung, Parit Kasan, yang kemudian dikenal sebagai Sempian. Selanjutnya berkembang di daerah sekitarnya seperti Parit Besar, Parit Senang dan Parit Kasan. Daerah ini merupakan penghasil kopi terbesar di Kepulauan Meranti.

Sangat disayangkan, potensi kopi di daerah ini ternyata lebih populer di Malaysia. Tahun 1980-an kopi Sempian sudah mulai dipasarkan di negeri jiran itu. Permintaannya terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan bisa dikatakan bahwa sebagian besar hasil produksi kopi ini diekspor ke Malaysia. Makanya, tidak banyak yang kenal dengan kopi ini.

Yang lebih menyedihkan, oleh pedagang kopi di Malaysia, kopi ini kemudian dikemas ulang dan diekspor kembali ke manca negara dengan brand kopi negara itu. Malaysia memang... Ah sudah lah.
Nah, kabar baiknya, kopi Sempian kini telah berhasil melahirkan 2 varietas unggul yang diakui oleh Kementrian Pertanian RI.

Dikutip dari laman Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Kementerian Pertanian RI, Pada bulan Oktober 2015 lalu, Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) telah berhasil melepas dua varietas kopi liberoid Komposit Meranti: LIM-1 dan LIM-2. Dalam sidang pelepasan varietas, Tim Penilai dan Pelepas Varietas (TP2V) Kementerian Pertanian telah menyetujui untuk melepas kedua varietas unggul kopi tersebut masing-masing dengan nama LIM-1 dan LIM-2. Kedua varietas tersebut merupakan hasil penelitian kerjasama Balittri dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Citarasa kedua varietas kopi tersebut tergolong kategori “excellent” dengan skor ≥ 80 dan berpotensi untuk menghasilkan kopi spesialti (specialty coffee). Keberadaan varietas unggul kopi liberoid yang terbukti adaptif di lahan gambut tersebut membuka peluang untuk pemanfaatan lahan-lahan marginal yang tersebar luas di berbagai wilayah di Indonesia.

Dengan kemunculan dua varietas unggul itu, ditambah Pemkab Kepulauan Meranti dan Pemprov Riau yang mulai serius ingin mengembangkan kopi ini, sungguh aku berharap suatu saat, kepopuleran kopi khas Riau ini menyapa dunia. Ah, kapan kita ke Sempian?

Sebagian cerita dikutip dari laman katariau.com