Menikmati Kopi dan Puisi

Menikmati Kopi dan Penyair Puisi

Menikmati Kopi dan Puisi
Kopi dan Istri, Siapakah yang Lebih Setia?
Kopi selalu nikmat disandingkan dengan apa saja, termasuk puisi. Rata-rata para penyair bersahabat dengan kopi, terlebih lagi pada proses kreatif ia membuat puisi. Di tengah malam yang dingin saat menuntaskan puisi, secangkir kopi kesukaan akan menemani. Atau saat menikmati puisi dalam sajak-sajak pentas seni di malam hari, kopi juga lah yang akan setia menemani penyair.

Pernah suatu saat istri seorang penyair bercerita, ia tak selalu sanggup menemani suaminya yang paling suka menghabiskan malam dengan puisi, lalu ia pun pergi tidur. Sebagai gantinya, ia memberi suaminya secangkir kopi. Suaminya yang semula akan kecewa karena tak ditemani akhirnya sumringah melihat kopi kesukaannya.

Kopi dan puisi bisa bersahabat karena sama-sama nikmat. Di dalam kopi terdapat kenikmatan kafein yang akan masuk dalam pikiran dan imajinasi, bertemu dengan diksi-diksi yang ada di imajinasi penyair. Maka semakin larut, semakin kopi membuat nikmat puisi-puisi yang ditulis.

Banyak orang bilang, semakin malam semakin mudah inspirasi keluar. Itulah alasan para penyair sering begadang untuk menuntaskan sajaknya. Pada saat malam yang dingin dan kantuk telah begitu kuat, siapa lagi yang bisa bersetia menemani kecuali secangkir kopi. Bahkan istri pun bisa pamit tidur karena tak kuat begadang.

Cinta Penyair Pada Kopi
Kalau kamu jadi penyair belum pernah mencoba kopi, sebaiknya cobalah berburu secangkir kopi yang paling lezat di lidah, kenapa? Karena kamu akan menemukan sensasi unik sebagai berikut:
  1. Kantuk hilang, imajinasi datang
    Menulis apa saja semakin asyik dengan secangkir kopi, termasuk juga puisi. Menulis puisi terkadang melihat kamu seperti orang gila, diam besendiri, menjauhi orang-orang, mencari tempat-tempat hening. Bila sendirian begini, nggak ada jaminan kamu nggak ngantuk. Jadi kenapa kamu tak mengajak kopi yang bisa mencegahmu dari kantuk. Banyak yang bilang, kantuk hilang imajinasi pun datang. Puisi kamu pun semakin cemerlang. Coba bawa secangkir kopi hangat dengan cara seduh apapun, lalu minum lah sebelum kamu mulai merangkai kata. Rasakan bagaimana bedanya dibandingkan jika kamu tak meneguk secangkir kopi.
  2. Sama-sama nikmat
    Berpuisi itu nikmat, karena kita menemukan banyak kata-kata indah dalam pikiran. Lalu kalau kamu ingin melengkapi keindahan itu dengan kenikmatan yang sebenarnya, maka secangkir kopi lah solusinya. Nikmatnya puisi itu ada di imajinasi, tapi nikmatnya secangkir kopi benar-benar nyata di lidah kamu. Lalu setelah itu jangan segan memotret secangkir kopi yang kamu minum dengan sebuah buku puisi milik mu, berbagi lah dengan orang lain di jejaring sosial. Percayalah akan banyak yang memberikan jempol pada fotomu itu.
  3. Membuat lebih energik
    Siapa bilang menulis tak butuh fisik yang kuat dan energik? Menulis itu menguras pikiran, maka pikiran kamu harus diberi hiburan. Juga fisik yang kemudian lebih penat, terlebih kalau kamu banyak posisi duduk, maka setelah berdiri beberapa bagian tubuh kamu akan terasa pegal dan letih. Kopi akan membuat kamu kembali bersemangat. Dan kamu siap melanjutkan puisi kamu dengan kata-kata yang lebih spektakuler lagi estetikanya.
  4. Menemanimu, meski tak ada lagi yang menemani
    Kopi menjadi teman terakhirmu. Saat semua orang sudah pergi meninggalkan mu untuk tidur, kopi sajalah yang akan bersetia padamu. Jadi pastikan yang menemani kamu itu kopi terbaik dari varian yang unggul. Kopi speciality yang akan membuat tubuh kamu lebih fresh meski harus banyak berpikir. Dengan kopi, kamu lebih bersemangat, tak akan bosan dan kamu pun bisa lebih memaklumi orang lain yang sudah tidur.
  5. Membuat puisi lebih berkualitas
    Kenapa berkualitas? Karena kamu bisa lebih fokus. Kopi akan membantu kamu bisa lebih fokus, termasuk dalam memilih diksi dan metafore yang sesuai.

Kopi dan puisi tak hanya bersahabat di malam hari. Di siang hari, di petang hari, di pagi hari, saat hujan atau cuaca dingin, kalau kamu sedang berpuisi, kopi akan setia selalu menemani. Dan kenikmatan itu benar-benar berpadu, apa yang ada di imajinasi dengan yang di lidah. Bahkan dirasakan langsung oleh tubuh yang bisa lebih bersemangat.


[ Kopimat | Kopi Nikmat ]